Menyiapkan Dokter untuk Bali: Langkah UNBI Menuju Pendidikan Kedokteran dengan Kekhasan HIV/AIDS
DENPASAR – Aula Universitas Bali Internasional (UNBI) menjadi tempat berlangsungnya evaluasi lapangan usul Pembukaan Program Studi Kedokteran Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Dokter Program Profesi pada Kamis, 13 Agustus 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara langsung dan virtual sebagai bagian dari proses menuju hadirnya pendidikan kedokteran di lingkungan UNBI.
Bagi UNBI, rencana tersebut bukan sekadar penambahan program studi baru. Dalam pemaparan pihak rektorat, perjalanan universitas di bidang kesehatan telah dimulai sejak pengembangan institusi kesehatan yang kemudian berkembang menjadi Universitas Bali Internasional. Latar belakang tersebut menjadi salah satu dasar komitmen UNBI untuk terus mengembangkan pendidikan di bidang kesehatan, termasuk melalui rencana pendirian Fakultas Kedokteran.
Dalam evaluasi lapangan tersebut, UNBI memaparkan berbagai kesiapan yang telah dilakukan sekaligus mengakui masih adanya hal-hal yang perlu disempurnakan. Masukan dari berbagai pihak yang hadir menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Bukan Sekadar Membuka Fakultas Kedokteran
Rencana pembukaan Fakultas Kedokteran UNBI membawa satu gagasan yang cukup spesifik: membangun pendidikan kedokteran yang memiliki kekhasan pada bidang kedokteran pariwisata, dengan penguatan upaya promotif dan preventif HIV/AIDS.
Gagasan tersebut tercermin dalam visi Fakultas Kedokteran UNBI, yakni menjadi fakultas yang unggul, berbudaya, dan berdaya saing di bidang kedokteran pariwisata pada tingkat nasional dan internasional pada tahun 2035.
Kekhasan tersebut tidak berhenti pada visi. Dalam pemaparan mengenai Program Studi Pendidikan Dokter, UNBI merancang lulusan yang profesional, kompeten, dan berdaya saing global dengan keunggulan promotif dan preventif penyakit HIV/AIDS dalam ekosistem kedokteran pariwisata.
Pilihan tersebut juga memiliki alasan yang dikaitkan dengan konteks Bali. Dalam materi yang dipresentasikan, UNBI menempatkan masih tingginya kasus HIV/AIDS di Bali dan daerah wisata lainnya sebagai salah satu faktor pendukung keunggulan calon Fakultas Kedokteran. Selain itu, keberadaan pakar HIV/AIDS dan kedokteran pariwisata, posisi Bali sebagai wilayah pariwisata, serta dukungan sejumlah pemangku kepentingan turut disebut sebagai bagian dari kekuatan yang dapat mendukung pengembangan keunggulan tersebut.
Dengan demikian, pendidikan dokter yang dirancang UNBI diarahkan tidak hanya pada kemampuan kuratif, tetapi juga pada bagaimana calon dokter dapat berperan dalam pencegahan dan promosi kesehatan, khususnya dalam isu HIV/AIDS.

Empat Pilar yang Disiapkan
Untuk mewujudkan gagasan tersebut, Fakultas Kedokteran UNBI merancang empat bidang utama melalui misi fakultas dan program studi: pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta tata kelola.
Pada bidang pendidikan, Program Studi Pendidikan Dokter dirancang menggunakan pendekatan berbasis capaian pembelajaran, terintegrasi, dan mengacu pada standar global. Keunggulan promotif dan preventif HIV/AIDS juga ditempatkan sebagai bagian dari arah pendidikan.
Sementara itu, bidang penelitian diarahkan pada penelitian berbasis bukti yang dapat mendukung upaya promotif dan preventif HIV/AIDS. Pada bidang pengabdian kepada masyarakat, program studi merencanakan pelayanan kesehatan dan edukasi dengan pendekatan yang serupa.
Keempatnya kemudian dilengkapi dengan tata kelola yang mengedepankan akuntabilitas, transparansi, orientasi mutu, serta penguatan kemitraan nasional dan internasional. Rancangan tersebut juga didukung oleh struktur pengelola yang telah dipersiapkan. Dalam rencana pengelolaan Program Studi Sarjana Kedokteran, dr. I Komang Putra Adnyana, Sp.MK tercatat sebagai ketua program studi dan dr. Putu Teja Laksana Nukana, Sp.B sebagai sekretaris program studi. Sementara itu, Program Studi Profesi Dokter dipimpin oleh dr. Ida Ayu Gede Pramahamsa, Sp.B, M.Biomed sebagai ketua program studi.

Bertumbuh Sebelum Melangkah Lebih Jauh
Rencana pembukaan Fakultas Kedokteran juga ditempatkan dalam perkembangan UNBI sebagai perguruan tinggi. Dalam pemaparan rektorat, jumlah mahasiswa UNBI menunjukkan peningkatan dalam lima tahun terakhir. Pada tahun akademik 2021–2022 tercatat 267 mahasiswa, kemudian meningkat menjadi 331 mahasiswa pada 2022–2023, 359 mahasiswa pada 2023–2024, dan 362 mahasiswa pada 2024–2025. Jumlah tersebut kembali meningkat menjadi 525 mahasiswa pada 2025–2026.
Dari sisi sumber daya akademik, UNBI juga memaparkan komposisi jabatan fungsional dosennya, yang terdiri atas 3 guru besar, 5 lektor kepala, 41 lektor, 24 asisten ahli, serta 51 dosen yang belum memiliki jabatan fungsional.
Data tersebut menjadi bagian dari gambaran kesiapan institusi yang disampaikan dalam evaluasi lapangan. Namun, bagi UNBI, perjalanan menuju pendidikan kedokteran tentu tidak berhenti pada pemenuhan persyaratan administratif dan akademik. Ada visi yang lebih panjang untuk dibangun.
Jika rencana tersebut terwujud, Fakultas Kedokteran UNBI tidak hanya akan menjadi ruang baru bagi pendidikan dokter, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjawab kebutuhan kesehatan yang berkaitan dengan karakteristik Bali sebagai destinasi pariwisata.
Pada akhirnya, evaluasi lapangan pada 13 Agustus bukan sekadar melihat apa yang telah disiapkan UNBI. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi ruang untuk melihat sejauh mana gagasan tentang pendidikan dokter yang unggul, berbudaya, berdaya saing, dan memiliki kekhasan kedokteran pariwisata dapat dipersiapkan secara nyata.
Langkah menuju hadirnya Fakultas Kedokteran UNBI masih merupakan sebuah proses. Namun dari gagasan yang dipaparkan, satu arah telah mulai terlihat: mencetak dokter yang tidak hanya mampu menangani penyakit, tetapi juga memiliki perhatian pada pencegahan dan promosi kesehatan di tengah dinamika Bali sebagai daerah pariwisata.
LAINNYA DARI UNBI
ADBISPRENEUR 2026 HADIRKAN SEMINAR LITERASI KEUANGAN DAN INVESTASI BAGI PESERTA
Seminar Nasional UNBI Gencarkan Strategi Kolaboratif Bersama BPJS Kesehatan demi Layanan Berkualitas