Seminar Nasional UNBI Gencarkan Strategi Kolaboratif Bersama BPJS Kesehatan demi Layanan Berkualitas
Universitas Bali Internasional (UNBI) kembali menunjukkan komitmen akademik dengan menggelar Seminar Nasional bertema "Strategi Kolaboratif dan Tantangan Pengembangan Berkelanjutan Menuju Layanan BPJS Berkualitas" pada Jumat, 3 Juli 2026. Kegiatan akademik ini diselenggarakan sebagai wadah diskusi antara dunia akademik dan penyelenggara jaminan kesehatan nasional dalam menghadapi tantangan sistem kesehatan Indonesia pada masa depan.
Acara dimulai secara resmi dengan sambutan hangat dari Rektor UNBI. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan harapan besar agar kerja sama antara BPJS Kesehatan dan UNBI tetap terjalin dan berkelanjutan di masa yang akan datang. Sambutan dilanjutkan oleh Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPJS Kesehatan, Dr. dr. Sutopo Patria Jati, M.M., M.Kes., yang hadir langsung sebagai salah satu pembicara utama dalam seminar tersebut. Suasana semakin istimewa saat dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (MoA) antara UNBI dan BPJS Kesehatan, yang kemudian diikuti dengan penyerahan cenderamata sebagai simbol penguatan kemitraan kedua pihak.
Sesi I : Transformasi BPJS Kesehatan dari Kuantitas Menuju Kualitas
Seminar nasional yang dipandu oleh moderator apt. Dr. I Gusti Ayu Rai Widowati, S.Si., M.Kes. ini menghadirkan dua narasumber ahli di bidangnya. Pada sesi pertama, Dr. dr. Sutopo Patria Jati, M.M., M.Kes. memaparkan materi seputar eksplorasi kebijakan, digitalisasi, serta penguatan ekosistem kesehatan nasional yang selaras dengan visi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dalam pemaparannya, Dr. Sutopo menyebutkan bahwa program JKN kini telah berhasil mencakup 285,4 juta peserta, dengan tingkat keaktifan kartu peserta mencapai angka 79,02%. Menurutnya, program JKN tidak hanya berdampak pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat, tetapi juga berperan aktif sebagai penggerak ekonomi sekaligus pelindung kesejahteraan sosial yang berkelanjutan. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa BPJS Kesehatan tengah gencar melakukan langkah digitalisasi sebagai fondasi utama layanan masa depan. Digitalisasi ini difungsikan sebagai upaya nyata untuk mempermudah masyarakat dalam mengakses informasi layanan kesehatan. Beberapa inovasi digital yang dioptimalkan meliputi:
1. Mobile JKN sebagai platform utama dalam genggaman peserta.
2. Pandawa untuk sentralisasi layanan tatap muka secara daring.
3. Call Center 165 dan penyediaan Anjungan Mandiri JKN di berbagai fasilitas kesehatan.
Meski perkembangan digital berjalan masif, Dr. Sutopo mengungkap sejumlah tantangan besar yang membayangi sistem kesehatan Indonesia ke depan. Tantangan tersebut berkisar pada isu populasi yang menua (aging population) dan longevity (harapan hidup), lonjakan kasus penyakit tidak menular, inflasi biaya medis beserta teknologi kesehatan, hingga masalah ketimpangan akses layanan di daerah. Beliau bahkan menyampaikan fakta medis bahwa individu di usia 25 tahun pun saat ini sudah rentan terkena penyakit kronis apabila tidak menerapkan pola hidup sehat sejak dini. Selain itu, terdapat tantangan struktural dalam pembiayaan kesehatan yang dipicu oleh masih rendahnya keaktifan peserta dalam membayar iuran. Menjawab tantangan kompleks tersebut, BPJS Kesehatan saat ini tengah bertransformasi dari sistem pembiayaan berbasis volume (volume-based) yang menitikberatkan kuantitas layanan, menuju sistem berbasis nilai (value-based) yang berfokus penuh pada kualitas dan kesembuhan pasien. Transformasi kebijakan ini diharapkan mampu menekan pembengkakan biaya sekaligus memastikan setiap pasien memperoleh perawatan medis yang tepat, efisien, dan efektif.
Sesi II : Kesiapan Fasilitas Kesehatan dan Kebutuhan SDM Digital
Memasuki sesi kedua, diskusi dilanjutkan oleh dr. I Gusti Ngurah Putra Dharma Jaya, M.Kes. selaku Direktur RSUD Bali Mandara. Beliau membawakan materi mengenai kesiapan rumah sakit dalam menghadapi standardisasi dan transformasi layanan BPJS. Sebagai awal pemaparan, dr. I Gusti Ngurah Putra Dharma Jaya memperkenalkan profil RSUD Bali Mandara beserta jajaran layanan unggulannya, seperti layanan kanker terpadu, layanan bedah sentral, Medical Check Up (MCU), layanan kesehatan tradisional, layanan laboratorium terintegrasi, hingga instalasi radiologi. Dalam menghadapi arus transformasi digital, RSUD Bali Mandara dilaporkan terus memperkuat fondasi implementasi iDRG dan sistem Klaim BPJS melalui berbagai instrumen digital terintegrasi. Beberapa instrumen yang dioptimalkan oleh pihak rumah sakit antara lain:
1. Rekam Medis Elektronik (RME) dan sistem SatuSehat
2. Sistem Bridging BPJS dan implementasi biometrik.
3. Optimalisasi dasbor mutu layanan rumah sakit.
Di akhir sesi, beliau turut memberikan catatan penting mengenai urgensi kesiapan lulusan perguruan tinggi di bidang kesehatan. Ia menekankan pentingnya penguasaan kemampuan dan keterampilan digitalisasi rumah sakit bagi para calon tenaga kesehatan. Beliau berharap para lulusan nantinya mampu menjalankan proses digitalisasi kesehatan secara maksimal, tidak hanya untuk pengembangan potensi diri, melainkan juga demi kemajuan tata kelola rumah sakit dan mutu pelayanan bagi masyarakat luas. Melalui penyelenggaraan seminar ini, UNBI berharap sinergi erat antara dunia pendidikan dan lembaga penyelenggara jaminan kesehatan nasional dapat terus bertumbuh subur. Langkah kolaboratif ini diharapkan mampu melahirkan generasi tenaga kesehatan baru yang siap dan tanggap dalam menghadapi tantangan transformasi layanan kesehatan di Indonesia.
(Penulis: Witari & Tricha)
LAINNYA DARI UNBI
Kolaborasi Prodi Informatika UNBI dan SMAS Dharma Praja Denpasar Edukasi Pemanfaatan AI untuk Siswa
From Local to Global - The Importance of A Good Journalism in The Post Truth Era" Kuliah Tamu dan Pelatihan Jurnalisme bersama Radar Bali