CALON TENAGA KESEHATAN MASA DEPAN TAK CUKUP HANYA PAHAM OBAT

16 Oktober 2026
CALON TENAGA KESEHATAN MASA DEPAN  TAK CUKUP HANYA PAHAM OBAT

DENPASAR - Selasa, 13 Oktober 2026 kuliah tamu telah dilangsungkan oleh Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FIIK) secara online dan offline di aula Universitas Bali Internasional (UNBI). Mengusung tema Leadership and Collaboration for Future Healthcare Workers, kegiatan dipandu oleh Ibu Ni Komang Semara Yanti, S.KM., MPH bersama dengan dua pembicara yang tentu kompeten di bidangnya. Sesi pertama dengan topik Leading with Purpose: Developing Leadership Skills for Future Healthcare Provides diisi oleh Assoc. Prof. Dr. Zulkhairul Naim Sidek Ahmad, seorang Associate Professor (Profesor Madya) serta Kepala Departemen Pendidikan Medis di Universiti Malaysia Sabah (UMS).

Dalam kesempatan ini, Assoc. Prof. Dr. Zulkhairul Naim Sidek Ahmad, membahas bagaimana pentingnya kepemimpinan bagi tenaga kesehatan dalam menghadapi permasalahan yang semakin kompleks. Dimana permasalahan ini memiliki banyak penyebab, tidak dapat diselesaikan hanya melalui diagnosis dan pengobatan, serta melibatkan banyak pihak di dalamnya. Contohnya, penanganan tuberkulosis tidak cukup melalui pemberian obat, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi tempat tinggal, kemampuan ekonomi, serta pemenuhan kebutuhan gizi pasien. Permasalahan yang ada tidak dapat dilihat melalui satu sisi saja, tetapi tenaga kesehatan perlu memahami masalah secara menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada aspek medis.

Adanya permasalahan yang semakin kompleks, menuntut pemimpin di bidang kesehatan perlu memiliki kemampuan mengambil keputusan dalam situasi yang tidak pasti, berpikir kritis, beradaptasi, serta memanfaatkan teknologi dan data secara tepat. Gaya kepemimpinan yang hanya mengandalkan perintah dan pengawasan tidak lagi cukup untuk menghadapi masalah yang saling berkaitan. Diperlukan kepemimpinan kolaboratif yang melibatkan berbagai disiplin ilmu dan sektor. Assoc. Prof. Dr. Zulkhairul Naim Sidek Ahmad mengungkapkan salah satu kemampuan yang patut dimiliki seorang pemimpin ialah keterampilan interpersonal atau soft skills. Bagaimana seorang pemimpin dapat berkomunikasi, bernegosiasi, bekerja dalam tim, memahami sudut pandang orang lain, dan menghadapi tekanan dapat membantu calon tenaga kesehatan menjadi pemimpin yang lebih baik. Untuk memiliki kemampuan interpersonal, seorang calon pemimpin dapat mengasah melalui pengalaman langsung, kegiatan organisasi, kerja kelompok, dan keterlibatan dalam masyarakat.

Seorang pemimpin menurut Assoc. Prof. Dr. Zulkhairul Naim Sidek Ahmad dengan kemampuan interpersonalnya mampu membangun kepercayaan masyarakat, memahami kebutuhan, serta karakter komunitas yang dihadapi. Penyampaian informasi harus disesuaikan dengan kondisi dan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Penting pula melibatkan tokoh masyarakat atau orang yang berpengaruh, sebagai usaha meningkatkan penerimaan terhadap suatu program kesehatan. Dengan demikian, kepemimpinan yang efektif tidak hanya bergantung pada pengetahuan, tetapi juga pada kemampuan membangun hubungan, kepercayaan, dan kerja sama.

Beranjak dari intensnya pembahasan sesi pertama, topik Beyond Teamwork: Building Effective One Health Collaboration turut dibahas dalam kuliah tamu bersama dengan narasumber kedua, yakni Prof. Dr. dr. Ni Nyoman Sri Budayanti, Sp.MK(K). Beliau merupakan spesialis mikrobiologi klinis, Guru Besar Tetap, dan staf pengajar di Departemen Mikrobiologi Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (UNUD). Dalam sesi ini narasumber membahas pendekatan One Health, yaitu pendekatan yang menghubungkan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan sehingga permasalahan pada salah satu aspek dapat berdampak pada aspek lainnya. Oleh karena itu, penanganan masalah kesehatan membutuhkan kerja sama lintas disiplin dan sektor.

Permasalahan yang dibahas ialah antimicrobial resistance (AMR) atau resistensi antimikroba. AMR terjadi ketika mikroorganisme menjadi resisten terhadap obat antimikroba, sehingga pengobatan infeksi menjadi lebih sulit. Hal yang menjadi pemicu kondisi ini ialah penggunaan antibiotik yang tidak tepat serta pengelolaan limbah yang kurang baik. Dampaknya dapat berupa meningkatnya risiko kegagalan pengobatan, kematian, biaya perawatan, dan lama rawat inap. Untuk itu, pengelolaan limbah menjadi bagian penting dalam upaya mencegah penyebaran AMR.

Dalam pembahasan mengenai limbah rumah sakit, pengolahan melalui instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dapat membantu mengurangi keberadaan bakteri tertentu sebelum air limbah dilepaskan ke lingkungan. Namun, hal ini masih menjadi tantangan bagi peternakan skala kecil yang berada di lingkungan pemukiman dan belum memiliki fasilitas pengolahan limbah yang memadai. Sehingga, diperlukan penelitian dan intervensi yang sesuai dengan kondisi setempat untuk mencegah pencemaran sungai serta sumber air masyarakat.

Prof. Dr. dr. Ni Nyoman Sri Budayanti, Sp.MK(K) juga menyebutkan pendekatan One Health diperlukan dalam menghadapi permasalahan lain, seperti penyakit zoonosis, perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan dampak aktivitas manusia terhadap satwa liar. Perubahan lingkungan dapat meningkatkan interaksi antara manusia dan hewan serta memengaruhi risiko munculnya penyakit. Dengan demikian, perlindungan kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan kelestarian lingkungan. Namun, One Health juga menghadapi tantangan dalam penerapannya.Saat ini yang menjadi tantangan dalam penerapan One Health, ialah pola pikir yang masih memisahkan bidang kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Selain itu, pelibatan masyarakat membutuhkan waktu karena setiap komunitas memiliki budaya, kepentingan, dan kesibukan yang berbeda.

Keberhasilan program One Health tidak hanya berkaitan dengan aspek ilmiah, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat berkolaborasi di dalamnya. Oleh karena itu, kepercayaan perlu dibangun agar masyarakat bersedia berpartisipasi dan merasa memiliki program yang dilaksanakan. Membangun kedekatan dengan masyarakat juga tak lepas dari peran pemerintah, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, serta komunitas perlu dilibatkan sesuai dengan kebutuhan dan perannya masing-masing. Melalui komunikasi yang baik, pendekatan yang sesuai dengan budaya setempat, serta kerja sama berkelanjutan agar program dapat diterapkan dan memberikan dampak nyata.

Dari pembahasan bersama kedua narasumber, dapat kita tarik bahwa dalam era modern ini, permasalahan di dunia kesehatan tentu menjadi lebih kompleks. Dimana, suatu permasalahan tidak dapat dilihat melalui satu sisi saja, tetapi perlu melihat dari sisi lainnya. Untuk itu, diperlukan pemimpin yang mampu melihat, menganalisis, mengambil tindakan yang sesuai dengan kondisi, dan bagaimana menyampaikannya kepada masyarakat. Dari sini akan selaras dengan bagaimana pemimpin dapat menjalankan program One Health, sebagai usaha pendekatan yang menghubungkan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan.

Setelah sesi pemaparan materi menarik dari sisi kesehatan oleh kedua narasumber, kuliah tamu dilanjutkan dengan sesi diskusi antara peserta kuliah tamu bersama kedua narasumber berkaitan dengan topik dan bagaimana kondisi di lapangan. Kuliah tamu kemudian ditutup hangat dengan penyerahan cinderamata dan foto bersama narasumber, peserta, serta civitas yang mendukung kelancaran kegiatan kuliah tamu oleh FIIK UNBI.

WhatsApp Tanya Admin