From Local to Global - The Importance of A Good Journalism in The Post Truth Era" Kuliah Tamu dan Pelatihan Jurnalisme bersama Radar Bali
Program Studi Hubungan Internasional berkolaborasi dengan Pers Mahasiswa Universitas Bali Internasional mengadakan kegiatan kuliah tamu dan pelatihan jurnalisme pada Jumat (22/05) di Perpustakaan Universitas Bali Internasional. Mengambil topik “From Local to Global: The Importance of A Good Journalism in The Post-Truth Era” kegiatan ini bertujuan untuk menyadarkan mahasiswa dan generasi muda akan ancaman era post-truth yang mana masifnya manipulasi informasi dan instrumentalisasi kekuatan politik mengakibatkan kebenaran menjadi kabur dan bersifat sangat subjektif. Maka dari itu, kegiatan ini diharapkan menambah pemahaman mahasiswa pentingnya literasi dan pembacaan kembali terhadap produk-produk jurnalisme yang kredibel serta tidak mudah percaya dengan konstruksi narasi yang beredar di media sosial dan internet.
Sebagai pembicara pada kesempatan kali ini adalah Djoko Heru Setiyawan yang merupakan jurnalis senior sekaligus pemimpin redaksi Jawa Pos Radar Bali. Dalam kuliahnya beliau menegaskan kembali bahaya disrupsi informasi dan tsunami kebohongan di berbagai platform media sosial. Pernyataan tersebut kemudian diafirmasi oleh Koordinator Program Studi Hubungan Internasional, Katong Ragawi Numadi, yang menambahkan bahwa algoritma media sosial yang berlandaskan pada preferensi emosional dapat menggiring publik menuju kesesatan informasi yang mendalam, terutama apabila konten-konten yang dikonsumsi merupakan kebohongan dan hasil manipulasi informasi. Apabila dibiarkan, kondisi ini tidak hanya akan mengakibatkan polarisasi sosial-politik yang tajam, bahkan dalam skala global. Masyarakat global akan mengalami reduksi kemampuan nalar dan kognitif dalam memahami dan merespons pengetahuan dan informasi. Lebih lanjut dalam kuliah yang diberikan Djoko menjelaskan adanya perbedaan antara konsep jurnalistik dan jurnalisme yang mana dalam jurnalisme, aspek terpenting tidak hanya sekadar menghasilkan informasi namun perlu didukung dengan pemahaman dan penerapan kode etik dan nilai moral. Pihaknya juga menceritakan berbagai pengalaman yang dimiliki9 sebagai jurnalisme investigatif yang harus berhadapan dengan elit pemerintah dan aktor-aktor berkuasa yang tidak betanggung jawab. Tidak jarang sebagai jurnalis, berbagai tekanan dan ancaman datang dari mereka yang berkuasa, yang merasa kepentingannya telah diusik dari berita-berita yang diangkat.
LAINNYA DARI UNBI
Kolaborasi BRIN-HI UNBI Proyeksi Diplomasi Budaya Indonesia
Gerak Cepat Cegah Perundungan oleh Program Studi HI dan Hukum Universitas Bali Internasional